
Begitu doaku pagi ini untuk “burung” yang mewakili “AKU”. Yah…aku ingin seperti burung yang bisa terbang lepas sejauh keinginan dan harapanku meninggalkan segala musibah, masalah dan keterpurukan. Hampir dua tahun menganggur tanpa penghasilan sama sekali sementara hutang mulai bermunculan dan menuntut untuk dibayar. Semua seperti badai besar yang menghantam kehidupanku. Saat itu semua aktivitasku terhenti, tidak ada celah dan ruang untuk terbang tinggi ke angkasa melawan badai. Yang bisa kulakukan hanyalah berdiam disalah satu celah pada tebing-tebing kokoh dipinggir pantai untuk bisa selamat.
Namun saat ini, badai telah berlalu dan tinggallah sampah yang berserakan akibat badai. Saya harus membersihkan segala sampah tersebut tanpa pernah berharap akan upah. Mengapa? Karena tidaklah mungkin kita bisa terbang jika jalan keluar dari celah tebing persembunyian masih tertutup sampah dengan rapat. Yah…berjuang dan berjuang menyingkirkan sampah satu persatu hingga menjadi jalan yang layak untuk dilalui dan dapat dengan mudah melesat terbang.
Serunya lagi saat membersihkan sampah bukanlah lebih mudah dibanding saat badai menerpa. Ancaman datang dari lingkungan sekitar. Sekelompok manusia berharap menangkapku untuk dijadikan makan siang, buat maen-maen, perhiasan rumah atau budak mencari makan mereka. Berkali-kali mereka melempar batu, ranting atau apapun yang bisa mereka lempar ke arahku sambil bersorak sorai. Aku harus berjuang menghindar dari lemparan “sampah baru” agar tidak melukai dan membahayakan keselamatanku sambil terus bekerja lebih ekstra keras untuk menyingkirkan “sampah baru” tersebut. Melelahkan memang, tapi aku tidak boleh berhenti, aku harus berjuang terus tanpa lelah. Berhenti sekarang berarti berhenti untuk selamanya, tidak boleh merasa lelah dan terkadang siap sesekali terluka. Pufh….sangat menantang.
Lebih berat lagi jika burung keluargaku dalam sarang yang sama enggan membantu bahkan turut serta melemahkan. Bukan sekali atau dua kali dikatakan “percuma saja menyingkirkan sampah itu, sudahlah , kita buat jalan tembus baru saja”. Padahal membuka jalan baru jauh lebih sulit dan memakan waktu. Itulah sebabnya kita harus mensyukuri nikmat Allah yang ada, Jika Allah memberi nikmat berupa jalan ini. Kita harus syukuri dengan menekuni pekerjaan disitu semaksimal mungkin. Karena kalau diteruskan lama-kelamaan jalan akan semakin terbuka lebar dan peluang-peluang baru semakin banyak terbuka.
Akhirnya saya yakin, pasti saya bisa melesat terbang kembali di angkasa luar lebih tinggi dan jauh dibandingkan sebelum badai karena ilmu dan tenaga yang dimilikipun sudah dua kali lebih besar dibanding sebelum badai. Namun semua tergantung ridho Allah, Allahlah yang lebih kuat atas segal kekuatan yang ada. Amienn…….