Tampilkan postingan dengan label Hot and Cool. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hot and Cool. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 April 2009

Sejuta Wajah


Hari ini adalah hari yang cukup berat tapi harus dilalui dengan senyum dan bahagia. Hari ini merupakan saat yang menentukan untuk besok dan hari yang akan datang. Barangkali beginilah rasanya orang yang menunggu saat eksekusi seperti amroji CS. Setiap detik merupakan perpanjangan rasa kesah....Saya mungkin akan meninggalkan pekerjaan yang notabene mulai kunikmati dan selama menjalaninya tidak banyak cacat proses. Hanya satu saja kesalahanku, saya tidak bisa memenuhi janji pada perusahaan yang disebabkan faktor keadaan. Ini yang menyesakan dada...berakhir karena keadaan bukan kesalahan diri.
Tapi..apalah artinya semua itu, saya sudah cukup kenyang dengan seluruh perih, getir kehidupan. Seperti orang-orang yang menyimpan sejuta wajah dalam satu cover wajah.
Misalkan saja Ryan (tersangka mutilasi), bisa menyimpan wajah sadis dalam format keluguan. Saya sendiri menyimpan rasa sakit dalam format kelucuan, keceriaan dan kebahagiaan. Namun, manusia ya manusia. Terkadang rasa sedih itu menghinggap termasuk rasa sedih karena tidak menemukan tautan kasih dan sayang untuk mencurahkan seluruh beban rasa. Hanya wadah ini aja yang siap. Wajah..oh wajah....

Kamis, 02 April 2009

80 : 20

Kemarin boz di kantor mengajak diskusi. Pastinya terkait dengan masa kontrak kerja gw yang tinggal se"upil" (kek gimana ya masa se"upil", tebak aja ndiri. Yang jelas kalo idung bangor ...upil-nya "GEDE" tapi kalo idungnya imoet kaya USB gw upil-nya "mungil"...tpi kayaknya ga juga sih, temen gw biar idungna "imoet" berhubung orngnya males buang ingus, upilnya jadi segede biji kelereng... hwua...kak...kak. PS: buat yang ngerasa sory bro)
Singkat kata diskusi menanyakan tentang bagaimana gw mensikapi pekerjaan yang berbeda karakter jauh dengan pekerjaan sebelumnya. Gw sih berpendapat selalu menikmati setiap proses kehidupan sebagai sebuah pembelajaran, termasuk pekerjaan gw yang sekarang. Meskipun jujur, barometer penilaian pekerjaan sekarang tidak seperti di back office yang terukur dan mudah digapai dengan kemampuan, kerjakeras dan otak. Barometer pekerjaan gw yang sekarang ini tergantung klien, yang bisa jadi pengen beli tapi ga punya uang dan faktor laen yang menurut gw ga penting dibeberin di sini. Masalahnya juga bukan sebatas barometer lho...ga lah, perusahaan gw juga ngga bakal senaif itu, tapi yang jelas gw memang "salah". Gw udah ingkar janji sama perusahaan dan gw ga perlu mencari pembenaran untuk itu. Gw buat statement ama boz "siap untuk diselesaikan...karna gw emang salah" Yang menarik adalah ketika diskusinya telah menyentuh kalimat berikut:
Boz : "Sar, saya tahu kamu sering menggunakan insting spiritual kamu yang 80% untuk menghadapi masalah, beda dengan saya yang menggunakan 80%-nya untuk logika. Cobalah mencari solusi, emang menantang tapi dibalik tantangan pasti ada imbalan yang besar. Cobalah!"
Penjelasan saya pun saat itu, ga penting untuk diungkapin disini. Cuma pertanyaan gw adalah : "salahkah seseorang yang menggunakan logika spriritual hingga dominan dalam mensikapi setiap masalah(80%)ketimbang pertimbangan logika????"
Dulu gw pernah hidup mengandalkan logika, dan ibadah yang gw jalanin hanyalah formalitas spiritual terhadap Tuhan YME, tanpa bermaksud mencari "hikmah" ketuhanan dalam mensikapi setiap masalah. Namun hasilnya .... sebuah keterpurukan mental yang amat "parah"! Gw sendiri merasa takut, seperti memasuki lorong gelap yang semakin dalam semakin gelap dan sunyi. Waktu itu Gw ga tau lagi apakah jalan didepan gw ini masih mulus, akankah ada binatang buas disana atau terjebak ke dalam jurang. Entahlah...yang jelas gw bisa keluar dari beban perasaan itu hanya dengan membalikan segala logika sehingga deket dengan logika spiritual.
Hal ini disebabkan, keterbatasan logika akal dengan apa yang disebut takdir. Misalnya saja bisakah logika akal memahami seseorang yang kita sayangi didunia ini meninggal secara tiba-tiba disaat kita sedang menikmati kebahagiaan bersamanya. Kepergiaan yang tidak pernah kita lihat tanda-tanda sebelumnya dan kita tau orang itu terlalu "baek" selam hidup di dunia. Namun...itulah...setiap yang bernyawa pasti akan mati. Dan itulah logika spiritual.
Sikap positif yang keluar dari setiap masalah akan membuka matahati kita atas sebuah kebenaran takdir. Takdir sendiri bukan sesuatu yang harus diratapi apalagi disesalkan, namun disikapi secara positif sebagai warna kehidupan yang baru. Bukankah taman bunga lebih terlihat keindahannya, jika dihiasi bunga warna-warni. Ga bagus lah kalo cuma satu warna. Meskipun bunga berwarna hitam kelam dan bau bangkai..he...he..jangan kelewat serius bro...jika disatukan warna lain seperti putih, kuning, coklat dlsb bakalan keluar keindahannya.
Bagi gw logika spiritual dan akal, bersifat saling menggenapi. Akal diperlukan untuk menciptakan kreasi menghadapi tantangan kehidupan dan spiritual dibutuhkan guna mensikapi hasil yang terkadang (bahkan seringkali berbeda dengan harapan). Jadi akal harus saling menggenapi dengan spiritual. Seperti cinta...lebih indah dengan munculnya rasa rindu digenapi cemburu, marah dan senyuman, harapan dan keterasingan. cobalah padukan ... hasilnya... DAHSYAT!!!
Jadi ada masalah dengan logika spiritual?

Minggu, 08 Februari 2009

Melesatlah terbang sejauh kau mau


Begitu doaku pagi ini untuk “burung” yang mewakili “AKU”. Yah…aku ingin seperti burung yang bisa terbang lepas sejauh keinginan dan harapanku meninggalkan segala musibah, masalah dan keterpurukan. Hampir dua tahun menganggur tanpa penghasilan sama sekali sementara hutang mulai bermunculan dan menuntut untuk dibayar. Semua seperti badai besar yang menghantam kehidupanku. Saat itu semua aktivitasku terhenti, tidak ada celah dan ruang untuk terbang tinggi ke angkasa melawan badai. Yang bisa kulakukan hanyalah berdiam disalah satu celah pada tebing-tebing kokoh dipinggir pantai untuk bisa selamat.
Namun saat ini, badai telah berlalu dan tinggallah sampah yang berserakan akibat badai. Saya harus membersihkan segala sampah tersebut tanpa pernah berharap akan upah. Mengapa? Karena tidaklah mungkin kita bisa terbang jika jalan keluar dari celah tebing persembunyian masih tertutup sampah dengan rapat. Yah…berjuang dan berjuang menyingkirkan sampah satu persatu hingga menjadi jalan yang layak untuk dilalui dan dapat dengan mudah melesat terbang.
Serunya lagi saat membersihkan sampah bukanlah lebih mudah dibanding saat badai menerpa. Ancaman datang dari lingkungan sekitar. Sekelompok manusia berharap menangkapku untuk dijadikan makan siang, buat maen-maen, perhiasan rumah atau budak mencari makan mereka. Berkali-kali mereka melempar batu, ranting atau apapun yang bisa mereka lempar ke arahku sambil bersorak sorai. Aku harus berjuang menghindar dari lemparan “sampah baru” agar tidak melukai dan membahayakan keselamatanku sambil terus bekerja lebih ekstra keras untuk menyingkirkan “sampah baru” tersebut. Melelahkan memang, tapi aku tidak boleh berhenti, aku harus berjuang terus tanpa lelah. Berhenti sekarang berarti berhenti untuk selamanya, tidak boleh merasa lelah dan terkadang siap sesekali terluka. Pufh….sangat menantang.
Lebih berat lagi jika burung keluargaku dalam sarang yang sama enggan membantu bahkan turut serta melemahkan. Bukan sekali atau dua kali dikatakan “percuma saja menyingkirkan sampah itu, sudahlah , kita buat jalan tembus baru saja”. Padahal membuka jalan baru jauh lebih sulit dan memakan waktu. Itulah sebabnya kita harus mensyukuri nikmat Allah yang ada, Jika Allah memberi nikmat berupa jalan ini. Kita harus syukuri dengan menekuni pekerjaan disitu semaksimal mungkin. Karena kalau diteruskan lama-kelamaan jalan akan semakin terbuka lebar dan peluang-peluang baru semakin banyak terbuka.
Akhirnya saya yakin, pasti saya bisa melesat terbang kembali di angkasa luar lebih tinggi dan jauh dibandingkan sebelum badai karena ilmu dan tenaga yang dimilikipun sudah dua kali lebih besar dibanding sebelum badai. Namun semua tergantung ridho Allah, Allahlah yang lebih kuat atas segal kekuatan yang ada. Amienn…….