Kemarin boz di kantor mengajak diskusi. Pastinya terkait dengan masa kontrak kerja gw yang tinggal se"upil" (kek gimana ya masa se"upil", tebak aja ndiri. Yang jelas kalo idung bangor ...upil-nya "GEDE" tapi kalo idungnya imoet kaya USB gw upil-nya "mungil"...tpi kayaknya ga juga sih, temen gw biar idungna "imoet" berhubung orngnya males buang ingus, upilnya jadi segede biji kelereng... hwua...kak...kak. PS: buat yang ngerasa sory bro)
Singkat kata diskusi menanyakan tentang bagaimana gw mensikapi pekerjaan yang berbeda karakter jauh dengan pekerjaan sebelumnya. Gw sih berpendapat selalu menikmati setiap proses kehidupan sebagai sebuah pembelajaran, termasuk pekerjaan gw yang sekarang. Meskipun jujur, barometer penilaian pekerjaan sekarang tidak seperti di back office yang terukur dan mudah digapai dengan kemampuan, kerjakeras dan otak. Barometer pekerjaan gw yang sekarang ini tergantung klien, yang bisa jadi pengen beli tapi ga punya uang dan faktor laen yang menurut gw ga penting dibeberin di sini. Masalahnya juga bukan sebatas barometer lho...ga lah, perusahaan gw juga ngga bakal senaif itu, tapi yang jelas gw memang "salah". Gw udah ingkar janji sama perusahaan dan gw ga perlu mencari pembenaran untuk itu. Gw buat statement ama boz "siap untuk diselesaikan...karna gw emang salah" Yang menarik adalah ketika diskusinya telah menyentuh kalimat berikut:
Boz : "Sar, saya tahu kamu sering menggunakan insting spiritual kamu yang 80% untuk menghadapi masalah, beda dengan saya yang menggunakan 80%-nya untuk logika. Cobalah mencari solusi, emang menantang tapi dibalik tantangan pasti ada imbalan yang besar. Cobalah!"
Penjelasan saya pun saat itu, ga penting untuk diungkapin disini. Cuma pertanyaan gw adalah : "salahkah seseorang yang menggunakan logika spriritual hingga dominan dalam mensikapi setiap masalah(80%)ketimbang pertimbangan logika????"
Dulu gw pernah hidup mengandalkan logika, dan ibadah yang gw jalanin hanyalah formalitas spiritual terhadap Tuhan YME, tanpa bermaksud mencari "hikmah" ketuhanan dalam mensikapi setiap masalah. Namun hasilnya .... sebuah keterpurukan mental yang amat "parah"! Gw sendiri merasa takut, seperti memasuki lorong gelap yang semakin dalam semakin gelap dan sunyi. Waktu itu Gw ga tau lagi apakah jalan didepan gw ini masih mulus, akankah ada binatang buas disana atau terjebak ke dalam jurang. Entahlah...yang jelas gw bisa keluar dari beban perasaan itu hanya dengan membalikan segala logika sehingga deket dengan logika spiritual.
Hal ini disebabkan, keterbatasan logika akal dengan apa yang disebut takdir. Misalnya saja bisakah logika akal memahami seseorang yang kita sayangi didunia ini meninggal secara tiba-tiba disaat kita sedang menikmati kebahagiaan bersamanya. Kepergiaan yang tidak pernah kita lihat tanda-tanda sebelumnya dan kita tau orang itu terlalu "baek" selam hidup di dunia. Namun...itulah...setiap yang bernyawa pasti akan mati. Dan itulah logika spiritual.
Sikap positif yang keluar dari setiap masalah akan membuka matahati kita atas sebuah kebenaran takdir. Takdir sendiri bukan sesuatu yang harus diratapi apalagi disesalkan, namun disikapi secara positif sebagai warna kehidupan yang baru. Bukankah taman bunga lebih terlihat keindahannya, jika dihiasi bunga warna-warni. Ga bagus lah kalo cuma satu warna. Meskipun bunga berwarna hitam kelam dan bau bangkai..he...he..jangan kelewat serius bro...jika disatukan warna lain seperti putih, kuning, coklat dlsb bakalan keluar keindahannya.
Bagi gw logika spiritual dan akal, bersifat saling menggenapi. Akal diperlukan untuk menciptakan kreasi menghadapi tantangan kehidupan dan spiritual dibutuhkan guna mensikapi hasil yang terkadang (bahkan seringkali berbeda dengan harapan). Jadi akal harus saling menggenapi dengan spiritual. Seperti cinta...lebih indah dengan munculnya rasa rindu digenapi cemburu, marah dan senyuman, harapan dan keterasingan. cobalah padukan ... hasilnya... DAHSYAT!!!
Jadi ada masalah dengan logika spiritual?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan masukan komentar Anda di sini