Bagaimana rasanya kalau anda (pembaca blog saya) tiba-tiba diramal oleh seseorang dan yang meramalkan itu tidak pernah kita minta untuk meramal diri kita..dan ternyata hasilnya menyedihkan, menakutkan dan mencemaskan anda?...Pasti kita berusaha menolak terlebih kalau yang diramalkan itu jauh dari keadaan kita saat itu...misalnya diramal akan mati dalam waktu tidak lama lagi sementara secara fisik kita merasa sehat, segar dan bugar...pasti menolak dong? bahkan mentertawakan...gag mungkin!!! itu yang terbersit di pikiran kita...
Namun..apa yang akan kamu rasakan ketika perlahan satu demi satu ramalan itu mulai menjadi kenyataan..memilin dan menjalin bagai benang yang semakin lama semakin menciptakan akhir perjalanan hidup kita...apakah kita masih bisa tertawa?...apakah kita akan merutuk orang yang meramal kita?...apakah justru menyesal bertemu dengan orang itu?...atau justru menyesal akan sikap kita yang meremehkan?...
Mungkin kalau ramalan itu sekedar ramalan kematian...tidak ada cerita duka disana tetapi kalau ramalan itu berupa jalan hidup yang sarat nestapa seperti menikah diusia senja..kehilangan pekerjaan diusia muda...besar pasak daripada tiang...menjadi gelandangan...pilu dan ngilu rasa hati ini...
Bukanlah mudah untuk menjejakan kaki pada falsafah kesabaran...bukan hal ringan untuk menenangkan pikiran pada jalur positif...dan bukanlah semudah membalikan tangan kala harus mencoba ikhlas...
satu persatu ramalan itu mulai terjadi seperti daun kering yang jatuh dari pangkal pohon..berguguran jatuh ke muka bumi mengotori muka tanah kebahagiaan dengan daun kering itu...Dulu...waktu pertama kali daun itu gugur aku bisa menangis..sekarang malah tertawa...gag ada lagi kesedihan di muka kecuali hati yang meringis ... menangis dan menjerit sejadi-jadinya...entah sampai kapan derita ini berakhir atau...begini takdirku?
Yah...takdir...kalo itu semua merupakan takdir yang telah dicatatkan ALLAH di Lauhful Mahfudz-Nya...maka tak ada kata lagi kecuali menikmati...menikmati takdirku sendiri..meski sakit..meski luka itu kian bernanah...
Tuhan...aku tak pernah tahu apa yang terjadi padaku semenit...sejam...sehari...sebulan atau setahun mendatang...dan aku pun tak tahu apakah semua peristiwa dimasa datang itu semakin menyakitkan...sepicik prasangkaku akan masa depan yang terlanjur kelam...
Tuhan...tolonglah aku...aku sudah lelah...letih...gontai dalam diam tanpa asa...engkau paling tahu apakah aku merasa susah atau senang saat ini...meskipun di depan orang aku slalu menunjukan rasa kebahagiaan...meski sayap ini kuberikan banyak orang agar bahagia...namun hati ini tetap menangis pilu...
Namun..apa yang akan kamu rasakan ketika perlahan satu demi satu ramalan itu mulai menjadi kenyataan..memilin dan menjalin bagai benang yang semakin lama semakin menciptakan akhir perjalanan hidup kita...apakah kita masih bisa tertawa?...apakah kita akan merutuk orang yang meramal kita?...apakah justru menyesal bertemu dengan orang itu?...atau justru menyesal akan sikap kita yang meremehkan?...
Mungkin kalau ramalan itu sekedar ramalan kematian...tidak ada cerita duka disana tetapi kalau ramalan itu berupa jalan hidup yang sarat nestapa seperti menikah diusia senja..kehilangan pekerjaan diusia muda...besar pasak daripada tiang...menjadi gelandangan...pilu dan ngilu rasa hati ini...
Bukanlah mudah untuk menjejakan kaki pada falsafah kesabaran...bukan hal ringan untuk menenangkan pikiran pada jalur positif...dan bukanlah semudah membalikan tangan kala harus mencoba ikhlas...
satu persatu ramalan itu mulai terjadi seperti daun kering yang jatuh dari pangkal pohon..berguguran jatuh ke muka bumi mengotori muka tanah kebahagiaan dengan daun kering itu...Dulu...waktu pertama kali daun itu gugur aku bisa menangis..sekarang malah tertawa...gag ada lagi kesedihan di muka kecuali hati yang meringis ... menangis dan menjerit sejadi-jadinya...entah sampai kapan derita ini berakhir atau...begini takdirku?
Yah...takdir...kalo itu semua merupakan takdir yang telah dicatatkan ALLAH di Lauhful Mahfudz-Nya...maka tak ada kata lagi kecuali menikmati...menikmati takdirku sendiri..meski sakit..meski luka itu kian bernanah...
Tuhan...aku tak pernah tahu apa yang terjadi padaku semenit...sejam...sehari...sebulan atau setahun mendatang...dan aku pun tak tahu apakah semua peristiwa dimasa datang itu semakin menyakitkan...sepicik prasangkaku akan masa depan yang terlanjur kelam...
Tuhan...tolonglah aku...aku sudah lelah...letih...gontai dalam diam tanpa asa...engkau paling tahu apakah aku merasa susah atau senang saat ini...meskipun di depan orang aku slalu menunjukan rasa kebahagiaan...meski sayap ini kuberikan banyak orang agar bahagia...namun hati ini tetap menangis pilu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan masukan komentar Anda di sini