Bayangkan kita berada disuatu negri yang dimiliki oleh seseorang yang sangat makmur dengan kekayaan tak terhingga banyak dan jumlahnya...Anggaplah pula Orang itu dengan panggilan Paduka Raja...dan kita hanyalah tawanan-tawanannya....suatu kali sang raja ini memberi kesempatan kedua kepada seluruh tawanan...berupa pembebasan sebagai tawanan dan menjadi warga istimewa yang bebas menikmati semua kekayaan yang dimiliki sang Raja... jika menepati perjanjian namun sebaliknya akan dihukum penjara seumur hidup jika tidak memenuhi perjanjian...wah.. sudah barang tentu semua mengambil kesempatan itu...tak satupun luput....
Akhirnya sang raja membuat sebuah perjanjian...isinya mengakui bahwa semua yang ada diluar sana /balik tembok milik sang raja dan tidak boleh dimiliki...sebagian besar mengakui dan menandatangani perjanjian dan hanya sedikit yang tidak mengakui...sebagai imbalannya atas pengakuan ini adalah pembebasan sementara disebuah lahan kosong di balik tembok kerajaan...awalnya semua massih mengakui ini milik kerajaan...sang raja mulai menitipkan banyak hal dari pakaian...kayu-kayuan untuk membuat rumah...sampai tanaman dan binatang ternak untuk makan mereka...kebaikan raja ternyata tak berakhir sampai disini...Raja masih datang menitipkan berbagai barang yang diminta oleh mereka dan raja tak segan-segan mengingatkan kalo ini semua hanya titipan jangan diakui...
Ternyata dalam perjalanan banyak yang menganggap ini sebagai milik sendiri...yang beruntung diantara mereka sebelum dipanggil mempertanggungjawabkan barang titipan...beberapa barang titipan diambil raja sebagai pengingat...dan ikhlas karena mengakui itu bukan barang miliknya...namun tak sedikit yang berusaha bertahan ...berteriak histeris...meronta-ronta menjadi gila saat titipan itu diambil sang raja...karena menganggap itu semua miliknya yang jelas-jelas bukan miliknya...
Sampai akhirnya terjadilah eksekusi itu...barang siapa yang mampu menjaga titipan dengan baik...mengakui bahwa titipan itu semua milik sang raja...selalu berterimakasih dengan sang raja...maka dimasukan oleh sang raja dalam kerajaannya dan menikmati semua yang ada didalam kerjaaan itu...namun barangsiapa yang mengingkari...sombong menganggap itu semua barang miliknya seperti pengontrak yang menganggap rumah kontrakan sebagai miliknya...maka dimasukan sang raja dalam golongan pemberontak...maka penjaralah sebagai tempat kembalinya dan mereka kekal didalamnya....
Hidup ini sebenarnya tak ubahnya menjalani kontrak perjanjian antara para tawanan dengan sang Raja...mari kita sikapi dengan arief dan bijaksana...
Senin, 19 Oktober 2009
Rabu, 07 Oktober 2009
Segores Catatan Takdir
Bagaimana rasanya kalau anda (pembaca blog saya) tiba-tiba diramal oleh seseorang dan yang meramalkan itu tidak pernah kita minta untuk meramal diri kita..dan ternyata hasilnya menyedihkan, menakutkan dan mencemaskan anda?...Pasti kita berusaha menolak terlebih kalau yang diramalkan itu jauh dari keadaan kita saat itu...misalnya diramal akan mati dalam waktu tidak lama lagi sementara secara fisik kita merasa sehat, segar dan bugar...pasti menolak dong? bahkan mentertawakan...gag mungkin!!! itu yang terbersit di pikiran kita...
Namun..apa yang akan kamu rasakan ketika perlahan satu demi satu ramalan itu mulai menjadi kenyataan..memilin dan menjalin bagai benang yang semakin lama semakin menciptakan akhir perjalanan hidup kita...apakah kita masih bisa tertawa?...apakah kita akan merutuk orang yang meramal kita?...apakah justru menyesal bertemu dengan orang itu?...atau justru menyesal akan sikap kita yang meremehkan?...
Mungkin kalau ramalan itu sekedar ramalan kematian...tidak ada cerita duka disana tetapi kalau ramalan itu berupa jalan hidup yang sarat nestapa seperti menikah diusia senja..kehilangan pekerjaan diusia muda...besar pasak daripada tiang...menjadi gelandangan...pilu dan ngilu rasa hati ini...
Bukanlah mudah untuk menjejakan kaki pada falsafah kesabaran...bukan hal ringan untuk menenangkan pikiran pada jalur positif...dan bukanlah semudah membalikan tangan kala harus mencoba ikhlas...
satu persatu ramalan itu mulai terjadi seperti daun kering yang jatuh dari pangkal pohon..berguguran jatuh ke muka bumi mengotori muka tanah kebahagiaan dengan daun kering itu...Dulu...waktu pertama kali daun itu gugur aku bisa menangis..sekarang malah tertawa...gag ada lagi kesedihan di muka kecuali hati yang meringis ... menangis dan menjerit sejadi-jadinya...entah sampai kapan derita ini berakhir atau...begini takdirku?
Yah...takdir...kalo itu semua merupakan takdir yang telah dicatatkan ALLAH di Lauhful Mahfudz-Nya...maka tak ada kata lagi kecuali menikmati...menikmati takdirku sendiri..meski sakit..meski luka itu kian bernanah...
Tuhan...aku tak pernah tahu apa yang terjadi padaku semenit...sejam...sehari...sebulan atau setahun mendatang...dan aku pun tak tahu apakah semua peristiwa dimasa datang itu semakin menyakitkan...sepicik prasangkaku akan masa depan yang terlanjur kelam...
Tuhan...tolonglah aku...aku sudah lelah...letih...gontai dalam diam tanpa asa...engkau paling tahu apakah aku merasa susah atau senang saat ini...meskipun di depan orang aku slalu menunjukan rasa kebahagiaan...meski sayap ini kuberikan banyak orang agar bahagia...namun hati ini tetap menangis pilu...
Namun..apa yang akan kamu rasakan ketika perlahan satu demi satu ramalan itu mulai menjadi kenyataan..memilin dan menjalin bagai benang yang semakin lama semakin menciptakan akhir perjalanan hidup kita...apakah kita masih bisa tertawa?...apakah kita akan merutuk orang yang meramal kita?...apakah justru menyesal bertemu dengan orang itu?...atau justru menyesal akan sikap kita yang meremehkan?...
Mungkin kalau ramalan itu sekedar ramalan kematian...tidak ada cerita duka disana tetapi kalau ramalan itu berupa jalan hidup yang sarat nestapa seperti menikah diusia senja..kehilangan pekerjaan diusia muda...besar pasak daripada tiang...menjadi gelandangan...pilu dan ngilu rasa hati ini...
Bukanlah mudah untuk menjejakan kaki pada falsafah kesabaran...bukan hal ringan untuk menenangkan pikiran pada jalur positif...dan bukanlah semudah membalikan tangan kala harus mencoba ikhlas...
satu persatu ramalan itu mulai terjadi seperti daun kering yang jatuh dari pangkal pohon..berguguran jatuh ke muka bumi mengotori muka tanah kebahagiaan dengan daun kering itu...Dulu...waktu pertama kali daun itu gugur aku bisa menangis..sekarang malah tertawa...gag ada lagi kesedihan di muka kecuali hati yang meringis ... menangis dan menjerit sejadi-jadinya...entah sampai kapan derita ini berakhir atau...begini takdirku?
Yah...takdir...kalo itu semua merupakan takdir yang telah dicatatkan ALLAH di Lauhful Mahfudz-Nya...maka tak ada kata lagi kecuali menikmati...menikmati takdirku sendiri..meski sakit..meski luka itu kian bernanah...
Tuhan...aku tak pernah tahu apa yang terjadi padaku semenit...sejam...sehari...sebulan atau setahun mendatang...dan aku pun tak tahu apakah semua peristiwa dimasa datang itu semakin menyakitkan...sepicik prasangkaku akan masa depan yang terlanjur kelam...
Tuhan...tolonglah aku...aku sudah lelah...letih...gontai dalam diam tanpa asa...engkau paling tahu apakah aku merasa susah atau senang saat ini...meskipun di depan orang aku slalu menunjukan rasa kebahagiaan...meski sayap ini kuberikan banyak orang agar bahagia...namun hati ini tetap menangis pilu...
Selasa, 07 Juli 2009
Keadilan Tuhan

Sering kali aku berkata,
ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi,
mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang
bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?
Ketika semua itu diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja
untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
Seolah ...
semua "derita" adalah hukuman bagiku.
Seolah ...
keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti
matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan Nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai
keinginanku,
Tuhan....
padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...
"ketika langit dan bumi bersatu,
bencana dan keberuntungan sama saja"
(WS Rendra).
Senin, 06 Juli 2009
BERBAGAI PERTANYAAN HIDUP

6 PERTANYAAN TENTANG HIDUP
Suatu hari Seorang Guru berkumpul dengan murid-muridnya...
Lalu beliau mengajukan enam pertanyaan...
Pertama...
"Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini...???"
Murid-muridnya ada yang menjawab...
"orang tua", "guru", "teman", dan "kerabatnya"...
Sang Guru menjelaskan semua jawaban itu benar...
Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "kematian"...
Sebab kematian adalah PASTI adanya.....
Lalu Sang Guru meneruskan pertanyaan kedua...
"Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini...???"
Murid-muridnya ada yang menjawab...
"negara Cina", "bulan", "matahari", dan "bintang-bintang"...
Lalu Sang Guru menjelaskan bahwa semua jawaban yang diberikan adalah benar...
Tapi yang paling benar adalah "masa lalu"...
Siapa pun kita... bagaimana pun kita...dan betapa kayanya kita... tetap kita
TIDAK bisa kembali ke masa lalu...
Sebab itu kita harus menjaga hari ini... dan hari-hari yang akan datang..
Sang Guru meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga...
"Apa yang paling besar di dunia ini...???"
Murid-muridnya ada yang menjawab
"gunung", "bumi", dan "matahari"...
Semua jawaban itu benar kata Sang Guru ...
Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "nafsu"...
Banyak manusia menjadi celaka karena memperturutkan hawa nafsunya...
Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu...
Karena itu, kita harus hati-hati dengan hawa nafsu ini... jangan sampai nafsu
membawa kita ke neraka (atau kesengsaraan dunia dan akhirat)...
Pertanyaan keempat adalah...
"Apa yang paling berat di dunia ini...???"
Di antara muridnya ada yang menjawab...
"baja", "besi", dan "gajah"...
"Semua jawaban hampir benar...", kata Sang Guru ..
tapi yang paling berat adalah "memegang amanah"...
Pertanyaan yang kelima adalah... "Apa yang paling ringan di dunia ini...???"
Ada yang menjawab "kapas", "angin", "debu", dan "daun-daunan"...
"Semua itu benar...", kata Sang Guru...
tapi yang paling ringan di dunia ini adalah "meninggalkan ibadah"...
Lalu pertanyaan keenam adalah...
"Apakah yang paling tajam di dunia ini...???"
Murid-muridnya menjawab dengan serentak... "PEDANG...!!!"
"(hampir) Benar...", kata Sang Guru
tetapi yang paling tajam adalah "lidah manusia"...
Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati... dan melukai perasaan saudaranya sendiri...
Sudahkah kita menjadi insan yang selalu ingat akan KEMATIAN...
senantiasa belajar dari MASA LALU...
dan tidak memperturutkan NAFSU...???
Sudahkah kita mampu MENGEMBAN AMANAH sekecil apapun...
dengan tidak MENINGGALKAN IBADAH....
serta senantiasa MENJAGA LIDAH kita...
Selasa, 30 Juni 2009
KADO ULANG TAHUN

Buat yang ulang tahun...kado yang baik adalah persahabatan itu sendiri. Karena cinta persahabatan adalah souvenir indah yang tak pernah lekang oleh kondisi dan waktu...semakin lama...nilai sahabat semakin manis...kita akan berusaha mencari symbol persahabatan ketika lama tak bertemu...
Sahabat akan senantiasa ada disaat senang maupun susah...menghapus semua duka dan membuka tabir kebahagiaan...sahabat ada untuk membuat kita tersenyum bahkan tertawa tergelak....
Sahabat...aku selalu ada untuk kamu...di sebuah sudut ruang maya
Selasa, 26 Mei 2009
PELANGI LUKA

Pelangi luka
Kuucapkan sembilu yg terapung merajuk menahan rasa
Mencari cahaya tak terkisah di ujung sana
Terlewati mimpi menuju pelangi...
Mendaratkan jingga yg penuh luka
Oh..wahai pelaku waktu
Ucapkanlah kelu yang meragu
Biarkanlah ia berlagu dalam perasaan
Oh…duhai pecinta masa
Nantikanlah hujan yang merona
Redupkan wajahnya hingga esok lusa
Kubiarkan luruh mendekat meradangkan jiwa sempurna
Mencabarkan hari tanpa indah sendiri saja
Tertelan sepi menuju matahari
Merapatkan senja di pelangi luka
by ika puspita sari
Senin, 11 Mei 2009
Table Digital Signage
Jika anda berfikir digital signage hanya Monitor LCD TV, silahkan terkejut. Karena sebentar lagi iklan perusahaan anda bisa langsung berada diatas meja sambil menikmati segelas kopi pahit. Keren kan. Berikut tayangannya dan bagi yang berminat dengan product tersebut atau butuh info lebih detail silahkan contact saya (binsar) di 021-28992539.
Langganan:
Postingan (Atom)