Senin, 19 Oktober 2009

Mensikapi Titipan ( Segores Catatan Takdir3)


Setiap kita hanyalah pengemban amanah (lihat posting sebelumnya TITIPAN)...ada banyak titipan yang diamanahkan baik sudah terjadi maupun yang belum terjadi...masalahnya sekarang adalah bagaimana mensikapinya...bukan hal mudah meskipun tampaknya biasa saja...
Pada dasarnya bicara sikap atas setiap titipan ada 3 yaitu:
1. Titipan yang belum terjadi
2. Titipan yang sedang berlangsung dan
3. Titipan yang ditarik kembali

Atas setiap titipan yang belum terjadi...sebaiknya kita selalu meminta kepada ALLAH...dalam hadits Qudsi (diriwayatkan Abu Dzar Al Ghifari) dikatakan sebagian:
"Wahai hamba-Ku, Kalian semuanya kelaparan kecuali siapa yang aku berikan kepadanya makanan, maka mintalah kepada-Ku niscaya Aku berikan kalian makanan....."(riwayat Muslim)
Jangan pernah menyerah dan terus mempersiapkan diri untuk menerima Titipan tersebut. Misalnya jika yang diharapkan adalah titipan berupa karier maka asahlah dengan banyak belajar ilmu manajemen...Hal ini sama seperti orang yang membersihkan halaman agar siap ditanam...dan saat sang raja datang melihat kerja para tawanan...diharapkan sang Raja memberi titipan tanaman karena ladang telah siap dan permintaan telah diterima...
Namun ada kalanya permintaan ini belum terkabul meskipun semua syarat telah dijalankan...sebaiknya jangan kita berkecil hati apalagi sampai mengurungkan niat...karena bisa jadi Allah sayang dengan kita...coba bayangkan kalo setiap titipan diamanahkan kepada kita...maka berapa banyak pertanggungjawaban kita diakhirat...misalnya kalau kita diamanahkan rezeki yang banyak dan melimpah...maka akan ada pertanyaan: dari mana harta itu kau dapatkan?...dan kaugunakan untuk apa semua harta itu?...pertanyaan ini tidak akan muncul bagi kaum fakir miskin tentunya...dan akibatnya peluang masuk kerajaan ALLAH semakin besar...mengingat berkurangnya pertanggungjawaban dan sekaligus menjadi percepatan proses menuju surga-Nya.

Allah menitipkan sesuatu kepada kita...tentunya dengan harapan kita mampu menjaga titipan tersebut...dan sebagai manusia beradab selayaknyalah kita ucapkan terima kasih...perlu diketahui beberapa titipan ternyata bersifat hidup meskipun tampaknya benda mati bagi kita...dan untuk setiap yang hidup perlu dipelihara sebagai layaknya mahluk hidup...misalkan saja rejeki harta benda...bisa jadi ini hidup dimata ALLAH...sebaiknya kita pelihara dengan selalu memangkas sebagian agar tumbuh subur dan rapih dengan jalan sedekah..pertanyaannya: Bagaimana bersedekah untuk titipan berupa manusia seperti istri dan anak?...menarik ungkapan Rasullullah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Dzar Al Ghifari: ~ "Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian jalan untuk bershodaqoh? Sesungguhnya setiap tasbih merupakan shodaqoh, setiap takbir merupakan shodaqoh, setiap tahlil merupakan shodaqoh, a'mar ma'ruf nahyi munkar merupakan shodaqoh dan setiap kemaluan kalian adalah shodaqoh. Mereka bertanya. Ya rasulullah apakah berpahala seseorang diantara kami yang menyalurkan syahwatnya?..Beliau bersabda, Bagaimana pendapat kalian seandainya hal tersebut disalurkan di jalan haram, bukankah baginya dosa? Demikian halnya jika hal tersebut diletakan pada jalan halal maka baginya pahala"~

Setiap titipan pasti akan diambil kembali oleh yang memberi...ada titipan berupa harta benda, karir atau jabatan...sewaktu-waktu bisa saja diambil dengan jalan yang tak diduga-duga...saat itu pasti sebagai manusia normal akan gundah gulana...beberapa akan bertanya apa yang salah sehingga ALLAH mencabut amanah-Nya...jika kebetulan kita tahu apa yang salah maka kita tinggal perbaiki diri dan bermohon ampunan kepada ALLAH...namun jika kita tak jua menemukan titik kesalahan kita...maka kita harus meyakini bahwa pemberian Titipan adalah hak prerogatif ALLAH yang tak dapat diganggu gugat...dengan atau tanpa syarat atau alasan...tak ada alasan selama ini kita berbuat baik, selama ini kita berdoa dan ibadah tanpa putus atau pun selama ini kita bekerja keras dan cerdas...namun ALLAH punya hak untuk mengasihi siapapun yang dikehendakinya...termasuk dalam hal memberi titipan...jadi tetaplah tenang karena yang terpenting adalah prosesnya sedangkan hasilnya Allah yang berkuasa.

Terakhir mengutip Hadits yang diriwayatkan Abu Al Abbas abdullah bin Abbas Ra, Rasulullah bersabda : Wahai ananda, saya akan mengajarkan kepadamu beberapa perkara:"Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya Dia akan selalu ada dihadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, Jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah sesungguhnya jika sebuah umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu dengan sesuatu, mereka tidak akan memberikan manfaat sedikitpun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu, dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakan kamu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak akan dapat mencelakakanmu kecuali kecelakaan yang telah ALLAH tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering" (HR Tirmidzi)

TITIPAN (Segores Catatan Takdir 3)

Bayangkan kita berada disuatu negri yang dimiliki oleh seseorang yang sangat makmur dengan kekayaan tak terhingga banyak dan jumlahnya...Anggaplah pula Orang itu dengan panggilan Paduka Raja...dan kita hanyalah tawanan-tawanannya....suatu kali sang raja ini memberi kesempatan kedua kepada seluruh tawanan...berupa pembebasan sebagai tawanan dan menjadi warga istimewa yang bebas menikmati semua kekayaan yang dimiliki sang Raja... jika menepati perjanjian namun sebaliknya akan dihukum penjara seumur hidup jika tidak memenuhi perjanjian...wah.. sudah barang tentu semua mengambil kesempatan itu...tak satupun luput....

Akhirnya sang raja membuat sebuah perjanjian...isinya mengakui bahwa semua yang ada diluar sana /balik tembok milik sang raja dan tidak boleh dimiliki...sebagian besar mengakui dan menandatangani perjanjian dan hanya sedikit yang tidak mengakui...sebagai imbalannya atas pengakuan ini adalah pembebasan sementara disebuah lahan kosong di balik tembok kerajaan...awalnya semua massih mengakui ini milik kerajaan...sang raja mulai menitipkan banyak hal dari pakaian...kayu-kayuan untuk membuat rumah...sampai tanaman dan binatang ternak untuk makan mereka...kebaikan raja ternyata tak berakhir sampai disini...Raja masih datang menitipkan berbagai barang yang diminta oleh mereka dan raja tak segan-segan mengingatkan kalo ini semua hanya titipan jangan diakui...

Ternyata dalam perjalanan banyak yang menganggap ini sebagai milik sendiri...yang beruntung diantara mereka sebelum dipanggil mempertanggungjawabkan barang titipan...beberapa barang titipan diambil raja sebagai pengingat...dan ikhlas karena mengakui itu bukan barang miliknya...namun tak sedikit yang berusaha bertahan ...berteriak histeris...meronta-ronta menjadi gila saat titipan itu diambil sang raja...karena menganggap itu semua miliknya yang jelas-jelas bukan miliknya...

Sampai akhirnya terjadilah eksekusi itu...barang siapa yang mampu menjaga titipan dengan baik...mengakui bahwa titipan itu semua milik sang raja...selalu berterimakasih dengan sang raja...maka dimasukan oleh sang raja dalam kerajaannya dan menikmati semua yang ada didalam kerjaaan itu...namun barangsiapa yang mengingkari...sombong menganggap itu semua barang miliknya seperti pengontrak yang menganggap rumah kontrakan sebagai miliknya...maka dimasukan sang raja dalam golongan pemberontak...maka penjaralah sebagai tempat kembalinya dan mereka kekal didalamnya....

Hidup ini sebenarnya tak ubahnya menjalani kontrak perjanjian antara para tawanan dengan sang Raja...mari kita sikapi dengan arief dan bijaksana...

Rabu, 07 Oktober 2009

Segores Catatan Takdir


Bagaimana rasanya kalau anda (pembaca blog saya) tiba-tiba diramal oleh seseorang dan yang meramalkan itu tidak pernah kita minta untuk meramal diri kita..dan ternyata hasilnya menyedihkan, menakutkan dan mencemaskan anda?...Pasti kita berusaha menolak terlebih kalau yang diramalkan itu jauh dari keadaan kita saat itu...misalnya diramal akan mati dalam waktu tidak lama lagi sementara secara fisik kita merasa sehat, segar dan bugar...pasti menolak dong? bahkan mentertawakan...gag mungkin!!! itu yang terbersit di pikiran kita...
Namun..apa yang akan kamu rasakan ketika perlahan satu demi satu ramalan itu mulai menjadi kenyataan..memilin dan menjalin bagai benang yang semakin lama semakin menciptakan akhir perjalanan hidup kita...apakah kita masih bisa tertawa?...apakah kita akan merutuk orang yang meramal kita?...apakah justru menyesal bertemu dengan orang itu?...atau justru menyesal akan sikap kita yang meremehkan?...
Mungkin kalau ramalan itu sekedar ramalan kematian...tidak ada cerita duka disana tetapi kalau ramalan itu berupa jalan hidup yang sarat nestapa seperti menikah diusia senja..kehilangan pekerjaan diusia muda...besar pasak daripada tiang...menjadi gelandangan...pilu dan ngilu rasa hati ini...
Bukanlah mudah untuk menjejakan kaki pada falsafah kesabaran...bukan hal ringan untuk menenangkan pikiran pada jalur positif...dan bukanlah semudah membalikan tangan kala harus mencoba ikhlas...
satu persatu ramalan itu mulai terjadi seperti daun kering yang jatuh dari pangkal pohon..berguguran jatuh ke muka bumi mengotori muka tanah kebahagiaan dengan daun kering itu...Dulu...waktu pertama kali daun itu gugur aku bisa menangis..sekarang malah tertawa...gag ada lagi kesedihan di muka kecuali hati yang meringis ... menangis dan menjerit sejadi-jadinya...entah sampai kapan derita ini berakhir atau...begini takdirku?
Yah...takdir...kalo itu semua merupakan takdir yang telah dicatatkan ALLAH di Lauhful Mahfudz-Nya...maka tak ada kata lagi kecuali menikmati...menikmati takdirku sendiri..meski sakit..meski luka itu kian bernanah...
Tuhan...aku tak pernah tahu apa yang terjadi padaku semenit...sejam...sehari...sebulan atau setahun mendatang...dan aku pun tak tahu apakah semua peristiwa dimasa datang itu semakin menyakitkan...sepicik prasangkaku akan masa depan yang terlanjur kelam...
Tuhan...tolonglah aku...aku sudah lelah...letih...gontai dalam diam tanpa asa...engkau paling tahu apakah aku merasa susah atau senang saat ini...meskipun di depan orang aku slalu menunjukan rasa kebahagiaan...meski sayap ini kuberikan banyak orang agar bahagia...namun hati ini tetap menangis pilu...

Selasa, 07 Juli 2009

Keadilan Tuhan


Sering kali aku berkata,

ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi,
mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?

Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang
bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?

Ketika semua itu diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja
untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,

dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
Seolah ...
semua "derita" adalah hukuman bagiku.

Seolah ...
keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti
matematika:

aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan Nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan Kekasih.

Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai
keinginanku,

Tuhan....
padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...

"ketika langit dan bumi bersatu,
bencana dan keberuntungan sama saja"

(WS Rendra).

Senin, 06 Juli 2009

BERBAGAI PERTANYAAN HIDUP


6 PERTANYAAN TENTANG HIDUP

Suatu hari Seorang Guru berkumpul dengan murid-muridnya...
Lalu beliau mengajukan enam pertanyaan...

Pertama...
"Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini...???"
Murid-muridnya ada yang menjawab...
"orang tua", "guru", "teman", dan "kerabatnya"...

Sang Guru menjelaskan semua jawaban itu benar...
Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "kematian"...
Sebab kematian adalah PASTI adanya.....

Lalu Sang Guru meneruskan pertanyaan kedua...
"Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini...???"
Murid-muridnya ada yang menjawab...
"negara Cina", "bulan", "matahari", dan "bintang-bintang"...

Lalu Sang Guru menjelaskan bahwa semua jawaban yang diberikan adalah benar...
Tapi yang paling benar adalah "masa lalu"...
Siapa pun kita... bagaimana pun kita...dan betapa kayanya kita... tetap kita
TIDAK bisa kembali ke masa lalu...
Sebab itu kita harus menjaga hari ini... dan hari-hari yang akan datang..

Sang Guru meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga...
"Apa yang paling besar di dunia ini...???"
Murid-muridnya ada yang menjawab
"gunung", "bumi", dan "matahari"...

Semua jawaban itu benar kata Sang Guru ...

Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "nafsu"...
Banyak manusia menjadi celaka karena memperturutkan hawa nafsunya...
Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu...
Karena itu, kita harus hati-hati dengan hawa nafsu ini... jangan sampai nafsu
membawa kita ke neraka (atau kesengsaraan dunia dan akhirat)...

Pertanyaan keempat adalah...
"Apa yang paling berat di dunia ini...???"
Di antara muridnya ada yang menjawab...
"baja", "besi", dan "gajah"...
"Semua jawaban hampir benar...", kata Sang Guru ..
tapi yang paling berat adalah "memegang amanah"...

Pertanyaan yang kelima adalah... "Apa yang paling ringan di dunia ini...???"
Ada yang menjawab "kapas", "angin", "debu", dan "daun-daunan"...
"Semua itu benar...", kata Sang Guru...

tapi yang paling ringan di dunia ini adalah "meninggalkan ibadah"...

Lalu pertanyaan keenam adalah...
"Apakah yang paling tajam di dunia ini...???"
Murid-muridnya menjawab dengan serentak... "PEDANG...!!!"
"(hampir) Benar...", kata Sang Guru
tetapi yang paling tajam adalah "lidah manusia"...
Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati... dan melukai perasaan saudaranya sendiri...

Sudahkah kita menjadi insan yang selalu ingat akan KEMATIAN...

senantiasa belajar dari MASA LALU...

dan tidak memperturutkan NAFSU...???

Sudahkah kita mampu MENGEMBAN AMANAH sekecil apapun...

dengan tidak MENINGGALKAN IBADAH....

serta senantiasa MENJAGA LIDAH kita...

Selasa, 30 Juni 2009

KADO ULANG TAHUN


Buat yang ulang tahun...kado yang baik adalah persahabatan itu sendiri. Karena cinta persahabatan adalah souvenir indah yang tak pernah lekang oleh kondisi dan waktu...semakin lama...nilai sahabat semakin manis...kita akan berusaha mencari symbol persahabatan ketika lama tak bertemu...
Sahabat akan senantiasa ada disaat senang maupun susah...menghapus semua duka dan membuka tabir kebahagiaan...sahabat ada untuk membuat kita tersenyum bahkan tertawa tergelak....
Sahabat...aku selalu ada untuk kamu...di sebuah sudut ruang maya

Selasa, 26 Mei 2009

PELANGI LUKA


Pelangi luka

Kuucapkan sembilu yg terapung merajuk menahan rasa
Mencari cahaya tak terkisah di ujung sana
Terlewati mimpi menuju pelangi...
Mendaratkan jingga yg penuh luka

Oh..wahai pelaku waktu
Ucapkanlah kelu yang meragu
Biarkanlah ia berlagu dalam perasaan

Oh…duhai pecinta masa
Nantikanlah hujan yang merona
Redupkan wajahnya hingga esok lusa

Kubiarkan luruh mendekat meradangkan jiwa sempurna
Mencabarkan hari tanpa indah sendiri saja
Tertelan sepi menuju matahari
Merapatkan senja di pelangi luka

by ika puspita sari